Di bawah lebatnya pepohonan, terlihat seorang wanita masih sibuk mencari jejak seseorang yang seharusnya berada di sekitar tempat itu dalam keadaan lemah, namun dia tidak berhasil menemukannya.

Rira berdiri diam dan memejamkan matanya, mencoba menggunakan persepsinya untuk menemukan jejak orang yang sedang dicarinya. "Aku yakin, nyonya tidak mungkin salah. Pria bernama Lynx itu seharusnya berada ditempat ini."

Tiba-tiba dia mendengar suara yang tidak asing seperti berbisik di telinganya. "Rira! Rencanaku gagal! Entah bagaimana dia bertahan dari efek ramuan itu! Ini tidak masuk akal! Tapi aku akan membuat ramuan sihir yang lebih kuat. Dengar baik-baik. Kau harus dekati Lynx. Setelah ramuanku selesai, berikan ramuan itu nanti padanya langsung. Dan kamu jangan sampai gagal!"

Suara itu hilang, berganti keheningan. Sosok Rira terdiam, matanya berubah menjadi putih semua seolah tidak memiliki titik hitam. Tidak lama matanya pulih seperti semula. "Mengerti Nyonya. Akan hamba laksanakan."

Rira menggertakkan gigi, misi sebelumnya untuk menyiksa Lynx gagal, kini dia harus berpura-pura mendekatinya. Matanya menatap lurus ke kejauhan. “Lynx… aku pasti berhasil menemukanmu kali ini.”

Di sisi lain, Lynx berdiri di atas bukit kecil setelah meninggalkan para perampok. Pandangannya menyapu cakrawala sebelum ia mengepalkan tangan. Ingatannya kembali kepada perkataan para perampok.

"Aku harus menemui Zhen Huan di Kota Huoling. Dia mungkin tahu apa yang sebenarnya terjadi di Desa Chiyang."

Namun tiba-tiba ia merasakan sentakan energi sakti yang di pasangnya di kertas formasi. "Bukankah energi ini yang terpasang di kertas formasi milik Kael. Dia dalam bahaya, aku harus segera menolongnya."

Tanpa ragu, tubuhnya menyembur maju, berlari mengikuti arah darimana asalnya energi sakti itu.

Namun belum jauh bergerak, langkahnya terhenti mendadak.

Di jalan setapak di depannya, berdiri seorang wanita dengan rambut pendek yang tak asing. Tatapan lembut, bibir melengkung, mata berbinar.

"Rira...?"

Wanita itu tampak terkejut. Sosok pemuda yang dicarinya mendadak muncul di depannya.

Rira yang tidak mengingat jelas dirinya sendiri, hanya mengingat bayangan palsu yang diberikan oleh penyihir Mira, dan kali ini sebagian ingatannya mengenai Lynx dibuka oleh Mira untuk melancarkan rencananya.

"Kepala Suku! Lynx! Astaga! Aku... aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini!" serunya gembira sebelum berlari dan memeluk Lynx erat.

Lynx membalas pelukan itu singkat, lalu bertanya dengan nada mendesak, "Bagaimana kau bisa ada di sini? Kami mencarimu selama ini. Mana yang lainnya? Penduduk Surya?."

Rira sedikit terdiam, lalu tersenyum manis. “Ceritanya panjang, aku akan menceritakannya padamu nanti, kepala suku. Aku mencari kalian sejak lama dan mendengar rumor tentang seseorang yang memiliki ciri-ciri seperti kepala suku. Jadi aku mencari kepala suku ke sini.”

Lynx memicingkan mata. "Apa kau sendirian sekarang dan ada urusan lain?"

Rira mengangguk cepat. "Aku sendirian dan kesini hanya untuk mencari kepala suku. Syukurlah kita bertemu disini."

Lynx mengangguk kecil, lalu berkata lirih, "Maaf, aku sedang buru-buru, tidak bisa mengobrol banyak saat ini. Kael dan yang lain... mereka dalam bahaya."

Memikirkan Kael dalam bahaya, dan memikirkan kemungkinan kehilangan Rira lagi, Lynx segera ambil keputusan dengan cepat. Ia memeluk Rira singkat, lalu menggendongnya sebelum wanita itu sempat bereaksi.

"Pegangan."

Dalam sekejap, tubuh mereka menyembur menembus udara. Rira menahan napas, lalu memekik pelan saat merasakan kecepatan luar biasa. Angin menghantam wajahnya, namun Lynx melindunginya dengan selubung energi sakti yang hangat dan kokoh.

Rira mencoba bersikap genit, mengusap dada Lynx pelan sambil tersenyum, “Kau bisa bawa aku seperti ini kapan saja, tahu…”

Namun belum selesai ucapannya, tubuhnya mulai oleng. Kepala terasa ringan. Dunia di sekitarnya kabur.

"Gila... cepat sekali... ini bukan... kecepatan manusia biasa..."

Akhirnya, Rira memejamkan mata. Meski Mira sudah memberinya kekuatan instan, namun kekuatannya jauh dibawah Lynx, membuatnya tidak berkutik. Napasnya pendek, tubuhnya semakin menempel erat pada Lynx. Dia merasakan sensasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya, perasaan yang mengatakan seolah dia ingin selalu bersama dengan pemuda ini.

Lynx yang merasa khawatir dengan Kael dan yang lainnya, tidak mengurangi kekuatannya, dan dalam hitungan detik saja, mereka telah menembus jarak puluhan ribu kilometer.

Mereka tiba di sebuah lapangan luas, tanah terbuka dengan sisa-sisa pertempuran samar yang tercetak di tanah. Jejak energi dari benturan Qi spiritual masih terasa hangat.

Lynx menurunkan Rira perlahan, namun matanya menyapu sekeliling dengan waspada.

"Kael... Narendra... Dimana kalian ..?"

Lynx berdiri diam. Angin berhembus pelan, membawa aroma dedaunan segar, namun tanah terlihat retak-retak, seolah pernah dihantam oleh kekuatan besar, tapi tidak ada satu pun sosok manusia terlihat.

Lynx memejamkan mata, mencoba menyelami bekas rekam jejak energi dari kertas formasi. Ia berjongkok, menyentuh tanah. Hatinya gelisah. Energinya terasa terputus di tempat ini.

“Ini aneh...” gumamnya pelan. “Energinya jelas melewati tempat ini, tapi... dari sini aku tidak merasakan jejak jalurnya lagi. Seolah jejaknya menghilang ditempat ini. Tetapi seharusnya aku bisa merasakan sisa energi yang tertinggal.”

Ia memutar tubuhnya perlahan, matanya menyapu sekeliling. Tak ada satu pun jejak jalur energi yang bisa ia ikuti. Seakan semuanya ditelan oleh ruang kosong.

Rira mendekat dengan langkah ringan. Matanya mengamati tanah dan udara sekeliling, lalu ia berkata pelan, "Apa yang terjadi Lynx? Apa yang kamu cari di tempat ini?"

Lynx menghela napas panjang."Aku menyusuri jejak energi dari kertas formasi yang kuberikan kepada Kael, dan jejak itu terputus di tempat ini."

Rira menatap Lynx, dia tidak heran jika Lynx mampu membuat formasi jejak, hal yang biasa dilakukan seorang kultivator ahli formasi, namun yang tidak dia duga, energi yang digunakannya, mampu menembus ruang waktu.

Setelah terdiam sejenak, Rira berkata "Mungkin mereka terjebak di tempat ini."

Lynx menoleh. "Terjebak?"

Rira mengangguk pelan, tatapannya serius. "Kalau kepala suku tidak bisa melacak jejak energi mereka, dan kepala suku merasa jelas jejak mereka seharusnya melewati tempat ini, maka kemungkinan terbesar... mereka terjebak dalam dimensi ruang-waktu."

Lynx menyipitkan mata. “Dimensi... ruang-waktu?”

Rira menganggukkan kepalanya,"Betul kepala suku. Jejak energi biasanya tidak bisa melewati ruang dimensi dimana terdapat dunia kecil dan hukum tersendiri didalamnya. Itu sebabnya energinya terputus. Di dunia ini, jejak mereka seolah hilang.”

Lynx terdiam. Wajahnya mengeras. Pikirannya membenarkan perkataan Rira. Dia juga segera teringat dengan salah satu ingatan leluhur Xiao Tang mengenai jejak formasi tidak bisa melacak jejak yang berada di dimensi berbeda.

"Kalau itu benar..." ia menggenggam tangan, "...maka aku harus menemukan celah masuk ke dimensi itu. Atau... menghancurkan dinding penghalangnya."

Rira menatap Lynx, lalu menunduk, menyembunyikan kilatan di matanya. "Tapi itu takkan mudah... Bahkan kau pun tidak bisa masuk ke ruang seperti itu begitu saja..."

Lynx menoleh padanya. “Ada cara. Selalu ada cara.” Mata Lynx menyalak, hawa tekanannya meningkat.

Ia mulai berjalan memutar di sekitar lapangan, mencoba merasakan ketidakstabilan ruang sekecil apa pun.

“Jika mereka masih hidup di dalam sana… Aku akan menemukan mereka.”

Lynx berdiri diam, matanya terpejam. Di dalam benaknya, ia menggali lebih dalam ke dalam ingatan leluhur Xiao Tang. Berbagai informasi dari masa lampau muncul dan menghilang, tapi tak satu pun yang memberi jawaban yang ia cari. Ia mendesak lebih dalam, memanggil setiap potongan kenangan tentang teknik dimensi, tentang ruang dan waktu yang terlipat. Namun jawabannya tetap sama.

“Tidak ada cara…” gumamnya lirih.

Ia membuka mata, rahangnya mengeras. “Tanpa kunci, mustahil membukanya. Bahkan kekuatan para kultivator tidak bisa menembus dimensi ruang-waktu secara paksa.”

Rira berjalan pelan mendekat ke sebuah titik di pinggir lapangan, lalu berjongkok. Ia menyentuh sesuatu di tanah, sepotong artefak yang retak dan hangus seperti terbakar dari dalam.

“Lynx,” panggilnya sambil menunjuk. “Lihat ini. Sepertinya ini sebuah artefak dan kemungkinan memiliki hubungan dengan ruang dimensi tersebut.”

Lynx segera mendekat. Ia memandangi pecahan itu lama, lalu menyentuhnya. Kepekaannya menembus setiap sisi pecahan untuk memeriksa kondisi Artefak.

"Mungkinkah artefak ini sejenis dengan artefak dunia kecil atau pagoda Qingling?" Batinnya.

“Artefak ini... sudah hancur,” katanya pelan setelah memeriksa dengan seksama.

Rira menghela napas, berpura-pura khawatir. “Kalau begitu... mereka benar-benar terjebak. Dan tak ada yang bisa menyelamatkan mereka…”

Ia menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul.

